Ekspor
Perdagangan luar negeri merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap Negara. Dewasa ini tidak ada satu negarapun di muka bumi yang tidak melakukan hubungan dagang dengan pihak luar negeri. Perekonomian setiap Negara praktis sudah terbuka bagi dan terjalin dengan dunia internasional. Perekonomian tertutup hanya tinggal ada dalam teori,untuk kepentingan metodologis paedagogis. Begitu juga dengan Indonesia. Perdagangan luar negeri menjadi semakin penting, bukan saja dalam kaitan dengan haluan pembanngunan yang berorientasi ke luar, yakni membidik masyarakat ke Negara-negara lain sebagai pasar hasil-hasil produksi dalam negeri, tapi juga berkaitan dengan pengadaan barang-barang modal untuk memacu industry dalam negeri.
Mengenali kecenderungan serta kinerja ekspor dan impor bukan saja berguna untuk mencermati perkembangan neraca perdagangan suatu Negara, akan tetapi bermanfaat pula untuk menyingkap pola dan karakteristik perdagangan luar negeri Negara tersebut. Dengan menyikap hal itu, dapat diketahui keunggulan dan kelemahan ekspor Negara yang bersangkutan,perilaku konsumsi masyarakat, serta kerentanan sector industry Negara itu akan kesinambungan pasok bahan baku atau barang modal dari luar negeri.
Perkembangan ekspor Indonesia tumbuh cukup meyakinkan. Selama 25 tahun periode 1970-1994 penerimaan ekspor Indonesia berkembang dengan kenaikan rata-rata 19,50% /thn. Tetapi sepanjang kurun waktu 1970-1994 terjadi penurunan penerimaan ekspor dalam lima tahun 1975,1982,1983,1985, dan tahun 1986. Kenaikan ekspor terbesar pada tahun 1974. Sementara itu, pada tahun 1986 terjadi kemerosotan terbesar. Penerimaan ekspor anjlog lebih dari 20% dibandingkan tahun 1985. Kemerosotan pada tahun 1986 diakibatkan krisis minyak dunia yang melambungkan harganya di pasaran internasional, telah membuat kita terlena dalam membangun basis ekspor tangguh. Baru ketika harga minyak melorot, sehinnga penerimaan dari ekspornya kurang bisa diandalkan lagi,kita baru tersadar. Baru menjelang pertengahan dasawarsa 1980-an kita sibuk dan serius menggalakkan ekspor nonmigas. Keterlenaan akibat buaian minyak itulah yang menyebabkan perkembangan penerimaan ekspor tidak menggembirakan dalam dasawarsa 1980-an. Tahun 1986 mencatat kemerosotan terbesar dalam sejarah penerimaan ekspor Indonesia.
Kinerja ekspor Indonesia selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama dipengaruhi oleh dua factor. Factor pertam bersifat komoditikal dan sekaligus internal, yaitu bahwa penerimaan ekspor sangat ditentukan oleh komoditas minyak dan gas bumi. Factor utama kedua yang mempengaruhi kinerja ekspor yang bersifat eksternal,yaitu lingkungan ekonomi internasional. Sudah barang tentu masih ada beberapa factor lain yang memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Factor-fator dimaksud tidak sepenuhnya berada di sector perdagangan atau aspek kebijaksanaan ekspor,melaikan bertautan pula dengan kinerja atau aspek kebijaksanaan di sector lain.
Komoditas ekspor Indonesia secara garis besar dibedakan ke dalam dua kelompok yaitu migas dan non migas. Dilihat secara sektoral,penyumbang terbesar penerimaan ekspor nonmigas adalah hasil- hasil industry. Ekspor hasil-hasil pertanian Indonesia terdiri atas berbagai macam komoditas. Diantaranya getah karet,kopi,teh,tembakau,gaplek,biji coklat,rempah-rempah,biji-bijian,ikan,udang,mutiara, kulit kerang,damar,kopal,sayur-sayuran,buah-buahan,tanaman obat,dan bahan nabati lain. Sedangkan ekspor hasil industry meliputi kayu olahan,makanan ternak,minyak atsiri,minyak kelapa sawit,asam berlemak,alat-alat listrik,barang anyaman,bahan kimia,semen,pupuk,kulit,kertas dan barang dari kertas serta berbagai macam komoditas lagi. Ekspor hasil-hasil tambang nonmigas antara lain bauksit,batu bara,granit,dan bijih-bijihan. Disamping berdasarkan sector produksi,barang-barang ekspor (juga barang impor) dapat pula dikelompokkan menurut Standard of Internasional Trade Classification (SITC). Dengan klasifikasi ini barang-barang ekspor dan impor secara garis besar dikelompokkan ke dalam 10 golongan besar berkode dari 0 hingga 9.
0.Bahan makanan dan binatang hidup
1.Minuman dan tembakau
2.Bahan-bahan mentah
3.Bahan bakar,bahan penyemir,dsb
4.Minyak/lemak nabati dan hewani
5.Bahan kimia
6.Hasil industry menurut bahan
7.Mesin dan alat pengangkutan
8.Hasil industry lainnya
9.Barang dan transaksi khusus lainnya.
Berdasarkan fakta bahwa penyumbang devisa terpenting telah beralih dari sector migas ke sector nonmigas,dan bahwa pemeran utama di dalam sector nonmigas adalah hasil-hasil industry, maka dapat disimpulkan telah terjadi dua macam perubahan sturuktural dalam percaturan ekspor Indonesia. Perubahan stuktural pertama ialah pergeseran dari semula eksporter migas kini menjadi eksporter nonmigas. Perubahan stuktural kedua ialah peralihan dari semula sebagai eksporter hasil-hasil primer kemudian sekarang menjadi eksporter produk-produk sekunder.
Struktur ekspor dapat pula dikenali dengan menelaah intensitas factor produksi komoditas-komoditasnya. Atas dasar ini dapat dibedakan lima macam karakter komoditas:
1.Padat sumberdaya alam
2.Padat tenaga tak terampil
3.Padat modal fisik
4.Padat modal insani
5.Padat teknologi
Negara-negara majulah yang merupakan pasar utama tujuan ekspor kita,seperti Jepang,Amerika, Singapura,Belanda,jerman,Inggris,dan masih banyak lagi.
Barang-barang yang di ekspor melalui sebuah pelabuhan tidak semuanya mencerminkan hasil produksi dari daerah atau propinsi dimana pelabuhan itu berada.karena masih terbatasnya fasilitas pelabuhan di kebanyakan wilayah di tanah air,acap kali ekspor barang dari suatu daerah terpaksa harus di kapalkan melalui pelabuhan di daerah lain.
Pengapalan barang ekspor secara lintas-propinsi bukan saja menghilangkan peluang pendapatan bagi daerah asal barang tersebut (di lain pihak menambah pendapatan bagi daerah yang dilintasi),tetapi juga memperpanjang jalur prnyampaiannya ke tempat tujuan akhir.hal itu berdampak terhadap waktu dan biaya.waktu penyampaian menjadi lebih lama,bahkna bias dan kerap kali terlambat sehingga melanggar kontrak yang disepakati antara eksporter dan pembeli di luar negeri.belum lagi jika kedatangan kapal telambat,sementara barang yang hendak dimuat terlanjur menunggu di gudang sewaan.ongkos kirim menjadi lebih mahal.akibatnya harga barang menjadi lebih tinggi,kemampuan bersaing diluar negeri berkurang.kendala struktural semacam ini menghambat kelancaran ekspor.itulah sebabnya pihak menjual atau eksporter kita sering tidak berdaya mengdapi tekanan pihak luar negeri agar menggunakan kapal mereka untuk mengangkutbarang-barang ekspor yang dibelinya.
sumber buku : Perekonomian Indonesia, DUMAIRY

0 komentar:
Posting Komentar